
Melayani Dengan Cinta: Perjalanan Posyandu ILP Webriamata
Desember 12, 2025Daun Kelor Untuk Jhitro
Sebuah Kisah Cinta Seorang Ibu yang Mengalahkan Pantangan
Di desa kecil bernama Tamburi, di Kecamatan Rindi, Nusa Tenggara Timur, tinggal seorang ibu muda yang tak banyak bicara, namun tindakannya penuh keberanian. Namanya Utu Landhi. Ia hidup sederhana bersama bayinya, Jhitro Adu Manudjawa. Bayi mungil itu baru berusia 8 bulan, namun tubuhnya sudah tampak begitu ringkih—lemah, kurus, dan kehilangan keceriaan khas bayi seusianya.
Pada 9 Januari 2025, saat ditimbang di Posyandu Kalihi, berat badan Jhitro hanya 5,9 kilogram. Gizi buruk, kata petugas. Penyebabnya: diare berkepanjangan, asupan gizi minim, dan mungkin juga, ketidaktahuan.
Namun kisah ini bukan hanya tentang penderitaan. Ini adalah kisah tentang cinta seorang ibu yang melampaui batas keyakinan dan tradisi, tentang keberanian menghadapi rasa takut, dan tentang harapan yang tumbuh dari sehelai daun kecil: daun kelor.
Titik Balik di Posyandu Kalihi
Februari 2025. Sebuah kegiatan sosialisasi mengenai Pola Asuh dan Asupan Gizi Seimbang diselenggarakan di Posyandu Kalihi oleh tim dari UPKM/CD Bethesda YAKKUM bersama Puskesmas Tanaraing. Ibu Utu hadir. Ia mendengar, mencatat, dan mulai memahami: bahwa anak seusia Jhitro butuh asupan gizi seimbang, bahwa peran seorang ibu sangat menentukan tumbuh kembang anaknya.
Mata Ibu Utu terbuka. Ia mulai menanam sayur di halaman rumah—bayam, labu, dan aneka tanaman lokal. Ia memelihara ayam sendiri sebagai sumber protein. Semua ia lakukan dengan tangan sendiri, tanpa mengeluh, hanya dengan satu tujuan: menyelamatkan Jhitro.
Tapi perjuangannya tak berhenti di situ.
Pantangan yang Menjadi Dinding
Di keluarganya, ada satu pantangan kuat: tidak boleh makan daun kelor. Konon, kelor bisa menyebabkan kerontokan rambut, bahkan kebotakan. Ibu Utu tahu itu. Ia pernah mengalaminya. Rambutnya rontok setiap kali ia mengolah daun kelor.
Namun kini, ia berada di titik persimpangan. Sebab ia juga tahu, dari penyuluhan itu, bahwa daun kelor sangat kaya zat besi, protein, dan vitamin penting. Kelor bisa menyelamatkan anaknya.
Dengan hati cemas, ia angkat tangan di forum, lalu bertanya: “Kalau saya kasih kelor ke anak, tapi keluarga kami pantang, bagaimana? Nanti kalau sakit?”
Tim kesehatan menjawab dengan tenang: kelor aman untuk anak, asal diolah dengan benar. Dan di sinilah cerita berubah. Karena cinta seorang ibu, jauh lebih besar dari rasa takut mana pun.
Cinta yang Melawan Takut
“Walaupun saya punya rambut ini rontok ketika saya petik ini kelor setiap hari untuk Jhitro, saya tetap petik dan masak campur dengan ayam dan saya berikan ke Jhitro,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Saya rela lawan pantangan keluarga walaupun sampai rambut saya habis nantinya, asalkan anak saya tidak lagi alami gizi buruk dan dia bisa hidup sehat.”
Setiap kali ia memasak bubur ayam kelor untuk Jhitro, ia menyelipkan doa: “Mboku Appu, biar saya saja yang kena pantangan ini. Anak saya jangan. Saya yakin dia bisa sehat.” Dan Tuhan pun mendengar.
Buah dari Keteguhan Hati
Saat penimbangan berikutnya pada 12 Februari 2025, berat badan Jhitro naik menjadi 6,4 kilogram. Sebulan kemudian, di bulan Maret, beratnya menjadi 7 kilogram. Anak yang sebelumnya hanya terbaring lemah, kini mulai tertawa, merangkak, dan menyambut dunia dengan matanya yang bersinar.

Foto Jhitro bersama Ibu Utu Landhi
Kisah Jhitro menyebar di kampung. Menu makanannya, dari ayam kelor, bubur sayur, hingga nasi tim ikan, menjadi inspirasi bagi para ibu lain. Anak- anak yang tadinya menolak makan sayur mulai mencoba. Keluarga yang tadinya bergantung pada makanan instan, mulai kembali ke kebun sendiri.
Sebuah Harapan Baru
Kini, Jhitro bukan hanya anak Utu Landhi. Ia adalah simbol harapan di Posyandu Kalihi. Sebuah bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari halaman rumah sendiri, dari tangan seorang ibu yang tak menyerah. Karena cinta seorang ibu adalah kekuatan terbesar di dunia. Bahkan pantangan leluhur pun tak mampu melawannya.
Mari kita terus mendukung para ibu seperti Utu Landhi – ibu-ibu yang mungkin tak memiliki banyak, tapi memberikan segalanya demi anak-anak mereka. Karena setiap anak, di manapun mereka lahir, berhak tumbuh sehat, kuat, dan bahagia. (Anggreni)



