logo weblogo weblogo weblogo web
  • Profil
  • Program
    • Project Yang Sedang Dikerjakan
    • Project Yang Sudah Dikerjakan
  • Artikel
    • Berita
    • Cerita Perubahan
  • CDB Podcast
  • Penyehatan Tradisional
  • Usaha Mandiri
    • Training Center
    • Pekarya Kesehatan
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
✕
No results See all results

Melayani Dengan Cinta: Perjalanan Posyandu ILP Webriamata

Di balik sunyinya sebuah desa kecil bernama Webriamata, tersembunyi kisah luar biasa tentang ketulusan, semangat, dan pengabdian. Di sanalah Katarina Maria Yudith Kehi, atau yang akrab disapa Ibu Yudit, menorehkan jejaknya sebagai bidan desa—bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup.

Lulus dari pendidikan kebidanan pada tahun 2019, Ibu Yudit pulang dengan satu tekad: melayani tanpa pamrih. Tak menunggu pekerjaan tetap, ia mulai mengabdikan diri sebagai tenaga kesehatan sukarela pada tahun 2022. Tanpa gaji. Tanpa fasilitas. Hanya bersandar pada cinta dan komitmen.

“Ini adalah panggilan dari Tuhan,” ungkapnya lirih, namun mantap.

Hari-harinya diisi dengan pelayanan di Posyandu Webriamata. Setiap bulan, ia memeriksa balita, memberi penyuluhan untuk ibu hamil, dan membantu warga yang memerlukan bantuan medis. Namun tantangan datang silih berganti. Dari 40 sasaran, tak semuanya datang. Maka, Ibu Yudit tak tinggal diam. Ia lakukan sweeping dari rumah ke rumah, memastikan tak ada yang tertinggal dari pelayanan.

Titik Balik yang Membuka Harapan

Tahun 2023 membawa sedikit angin segar. Ibu Yudit resmi diangkat sebagai tenaga kesehatan desa dengan dukungan dana desa. Namun baginya, status hanyalah formalitas. Hal yang terpenting adalah keberlanjutan dan kualitas pelayanan.

Di tengah perjalanannya, Ibu Yudit mendengar tentang konsep Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer)—satu hari pelayanan untuk semua kelompok usia: bayi, anak, remaja, pasangan usia subur, hingga lansia. Ia membaca, mencari tahu, dan membayangkan: bagaimana jika para orang tua yang mengantar anak ke posyandu juga bisa memeriksakan diri mereka sendiri dalam kunjungan yang sama?

Impian itu akhirnya menemukan jalannya. Pada Oktober 2024, Ibu Yudit terpilih mengikuti Pelatihan Penerapan Posyandu Pendekatan Siklus Hidup Manusia di Hotel Ramayana, Betun. Selama dua hari pelatihan yang diselenggarakan oleh UPKM/CD Bethesda YAKKUM, ia belajar banyak hal—mulai dari strategi pelayanan terpadu hingga pencatatan yang lebih efisien dengan kartu bantu.

Dari Impian Menjadi Kenyataan

Sepulang dari pelatihan, Ibu Yudit tidak tinggal diam. Bersama dua kader, ia menyusun strategi: melakukan sosialisasi dan menyiapkan peluncuran Posyandu ILP. Maka, pada 9 November 2024, Posyandu ILP Webriamata resmi diluncurkan di kantor desa.

Foto Bidan Yudith saat memberikan layanan imunisasi di posyandu

Sebanyak 12 kader— 5 dari Posyandu A, 5 dari Posyandu B, dan 2 KPM—bekerja secara sistem rolling, agar semua kader memahami seluruh proses pelayanan. Dukungan pun mengalir Puskesmas Weoe, Ketua PKK, kepala dusun, RT,RW semuanya hadir dan terlibat langsung.

“Dengan kartu bantu, kami bisa melakukan screening dengan lebih menyeluruh, walau butuh waktu lebih lama,” tutur Ibu Yudit dengan senyum letih namun penuh syukur. Kini, Posyandu Webriamata telah bertransformasi. Tak lagi hanya menimbang bayi, tapi menjadi ruang pelayanan lintas usia yang padat namun menyentuh semua lapisan masyarakat.

Tak Semua Mudah, Tapi Semua Layak Diperjuangkan

Namun, tak semua berjalan mulus. Kehadiran remaja masih minim, karena jadwal posyandu kerap bersamaan dengan jam sekolah. Hanya dua hingga tiga remaja yang hadir, dan sebagian besar adalah mereka yang putus sekolah. Meski demikian, Ibu Yudit tidak menyerah. Ia bahkan secara khusus mendatangi seorang remaja difabel, memastikan tak ada yang luput dari pelayanan.

Kelas ibu hamil juga sempat terpinggirkan di tengah padatnya kegiatan posyandu. Padahal, edukasi bagi ibu hamil adalah pondasi penting untuk mencetak generasi sehat sejak dalam kandungan. Maka lahirlah ide sederhana namun penuh makna: Kelas Ibu Hamil rutin setiap tanggal 19, bertempat di Poskesdes. Tempat yang tenang, waktu yang khusus, dan suasana yang mendukung proses belajar ibu-ibu calon kehidupan baru.

Di sana, Ibu Yudit tak hanya memberi ilmu—tentang gizi, tanda bahaya kehamilan, hingga perawatan bayi—tetapi juga menjadi tempat curhat, penenang kegelisahan, dan penyemangat bagi para calon ibu.

 

Ketika Dukungan Mengalir

Kerja sama dengan UPKM/CD Bethesda membawa berkah besar. Pada 5 April 2025, alat-alat kesehatan yang sebelumnya menjadi mimpi pun menjadi nyata: timbangan bayi, pengukur tinggi badan, tensimeter, alat cek gula darah, kolesterol, HB, pengukur lingkar tubuh, termometer, oximeter, boneka peraga bayi dan payudara, serta banyak lagi alat pendukung lainnya kini tersedia. Sebuah dukungan nyata bagi mereka yang selama ini bekerja dalam keterbatasan.

“Pelayanan bukan tentang upah, tapi tentang panggilan.” — Ibu Yudit

Dari desa kecil bernama Webriamata, Ibu Yudit mengukir kisah yang mungkin tak ramai diberitakan, namun bermakna dalam di hati masyarakat. Sebuah kisah tentang cinta yang diwujudkan dalam aksi, tentang kerja senyap yang menghasilkan perubahan nyata.

Webriamata boleh saja kecil di peta dunia. Tapi dari sanalah, semangat pengabdian besar muncul—dari seorang perempuan biasa dengan hati luar biasa. (Maria Fatima Hoar)

Share

Related posts

VCT Mobile Service in Belu Regency

Mei 12, 2026

Kolaborasi dan Kreativitas: Kunci Atasi Kesenjangan Layanan Kesehatan


Read more
April 7, 2026

Desa Digital: Pelayanan Cepat Dan Akurat Di Desa Umamanu


Read more
Maret 9, 2026

Digitalisasi Desa Umamanu: Langkah Besar Menuju Pelayanan Publik yang Transparan dan Modern


Read more

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

UPKM/CD Bethesda YAKKUM

Rumah Sakit Tanpa Dinding

@2026