
Daun Kelor Untuk Jhitro
Januari 9, 2026
Sinergi dan Inovasi: Perjalanan Pengendalian Terpadu HIV dan AIDS
Februari 16, 2026Jendela Digital Dari Desa untuk Dunia
Bayangkan sebuah rumah tanpa jendela. Tertutup dan gelap. Namun Bsaat jendelanya terbuka, cahaya dan udara segar masuk, menghubungkan ruang dalam dengan dunia luar. Begitu pula dengan desa. Website desa adalah jendela digital yang membuka akses dunia luar untuk melihat, mengenal, dan berinteraksi dengan desa. Bukan hanya sebagai media informasi, tetapi juga simbol keterbukaan dan kesiapan desa dalam menyongsong kemajuan zaman.
Apa Itu Sistem Informasi Desa (SID)?
Sistem Informasi Desa (SID) merupakan platform digital berbasis OpenSID yang dirancang untuk membantu desa mengelola, menyajikan, dan menyebarluaskan informasi secara efektif dan transparan. Melalui sistem ini, masyarakat dapat dengan mudah mengakses berbagai data desa, mulai dari profil wilayah, data kependudukan, berita kegiatan, hingga promosi produk lokal melalui fitur Lapak Desa. Bagi pemerintah desa, SID menjadi alat bantu dalam mempercepat pelayanan administrasi, meningkatkan akuntabilitas, dan memperluas komunikasi dengan warga maupun pihak eksternal. Kehadiran SID menjadi landasan penting menuju terwujudnya Desa Digital—salah satu agenda nasional dalam transformasi digital Indonesia.
Langkah Nyata dari Alor Selatan
Beberapa desa di Kabupaten Alor, khususnya di Kecamatan Alor Selatan, telah memulai langkah maju dengan menerapkan SID secara daring. Desa Kelaisi Tengah, Subo, Manmas, dan Tamanapui adalah contoh desa yang telah mengaktifkan website resmi mereka sebagai “jendela informasi digital”. Langkah ini bermula dari partisipasi perangkat desa dalam pelatihan pembuatan website yang diselenggarakan oleh UPKM/CD Bethesda YAKKUM, pada 4–5 Februari 2025 di Aula Kantor Kecamatan Alor Selatan. Pelatihan ini bertujuan membekali perangkat desa dengan kemampuan mengelola media digital sebagai sarana komunikasi dan informasi yang efektif.
Harapan dari Desa Kelaisi Tengah
Kepala Desa Kelaisi Tengah menyampaikan bahwa kehadiran SID diharapkan dapat mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih transparan, partisipatif, dan responsif. Selain itu, sistem ini diharapkan dapat memperkuat efisiensi penggunaan sumber daya, mendukung penguatan ekonomi lokal, serta menyediakan basis data terpadu sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan yang tepat sasaran. SID juga membuka akses layanan digital untuk masyarakat, mulai dari surat-menyurat, data kependudukan, hingga informasi penting seperti program kesehatan, pendidikan, dan kegiatan desa lainnya. Dengan informasi yang mudah diakses, kualitas hidup masyarakat desa pun diharapkan dapat meningkat.

Foto pendampingan yang dilakukan staf UPKM/CD Bethesda YAKKUM Area Alor kepada Tim Informasi Desa di Alor Selatan
Tantangan dan Hambatan di Lapangan
Meski begitu, pengembangan SID tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia yang belum sepenuhnya menguasai pengelolaan sistem digital. Oleh karena itu, pelatihan berkelanjutan menjadi kebutuhan utama. Selain itu, akses internet yang belum stabil, rendahnya kesadaran warga akan pentingnya data, serta kekhawatiran soal keamanan data pribadi turut menjadi hambatan. Penyediaan infrastruktur digital pun memerlukan investasi yang tidak sedikit, baik dari segi pengadaan maupun perawatan jangka panjang. Kepala Desa Manmas juga menyoroti rendahnya partisipasi masyarakat terhadap pemanfaatan SID. Minimnya rasa ingin tahu dan keterlibatan warga menjadi tantangan tersendiri dalam membangun budaya digital di tingkat desa.
Perkembangan yang Terus Berjalan
Meski perlahan, proses digitalisasi desa terus berjalan. Sejak peluncuran website resmi, pemerintah desa secara aktif memperbarui konten dan berbagi informasi kegiatan. Beberapa artikel yang telah dipublikasikan antara lain: • Pembukaan layanan Posyandudalam program Integrasi Layanan Primer. • Edukasi pola asuh anak dan pemberian makanan bayi dan anak (PMBA). •Pelatihan pembuatan kloset sehat sebagai bagian dari upaya peningkatan sanitasi desa. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal budaya baru dalam tata kelola dan pelayanan publik.
Menuju Desa Digital yang Inklusif dan Berkelanjutan
Di era transformasi digital, arus informasi bergerak dengan kecepatan tinggi. Meski akses internet di beberapa wilayah masih terbatas, perkembangan teknologi terus membuka peluang. Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan jembatan menuju pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan. Sistem Informasi Desa adalah cerminan semangat kolaboratif antara pemerintah dan mas yarakat. D engan keterl ibatan semua pihak—pemerintah, warga, dan mitra pembangunan—jendela digital desa akan terus terbuka, menyinari masa depan desa yang lebih cerah.



