Pijat Tradisional Menjadi Berkat
Oktober 21, 2025
Melayani Dengan Cinta: Perjalanan Posyandu ILP Webriamata
Desember 12, 2025Posyandu Siklus Hidup di Desa Laihau
Desa Laihau, yang menjadi pintu gerbang menuju Kecamatan Lewa Tidahu, Nusa Tenggara Timur, bukan hanya dikenal dengan bentang alam datar dan berbukit serta hamparan sawah yang luas. Di balik pesonanya, desa ini mulai menunjukkan langkah maju dalam bidang kesehatan masyarakat, terutama melalui transformasi pelayanan Posyandu.
Dengan jumlah penduduk sebanyak 2.875 jiwa yang tersebar di empat dusun dan satu desa persiapan, Desa Laihau memiliki empat posyandu aktif. Namun, pelayanan Posyandu bukanlah hal yang mudah, terutama bagi para kader yang selama ini bekerja di balik layar.
“Dulu, kami hanya pakai selembar kertas kecil. Isinya nama, berat badan, tinggi badan. Kadang hilang, kadang tulisannya salah. Itu sangat menyulitkan,” ujar Ibu Martina Radja, salah satu kader yang sudah cukup lama mengabdi.
Dari Lima Meja ke Siklus Hidup
Sebelumnya, Posyandu di Laihau menggunakan sistem klasik “lima meja”, yang membagi alur pelayanan secara bertahap. Namun, keterbatasan jumlah kader dan kurangnya penguasaan terhadap tiap meja sering menjadi hambatan.
Perubahan besar datang ketika pemerintah memperkenalkan konsep Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer) berbasis siklus hidup manusia—sebuah pendekatan baru di mana pelayanan tidak hanya untuk bayi dan ibu hamil, tetapi juga mencakup remaja, dewasa, hingga lansia.
“Awalnya saya bingung. Bagaimana bisa kami melayani semua kelompok usia sekaligus? Tapi setelah ikut pelatihan dari CD Bethesda YAKKUM, semuanya mulai masuk akal,” kenang Martina.

Foto Kegiatan pengukuran tinggi badan saat Pelayanan Posyandu untuk dewasa dan lansia di Desa Laihau, Sumba Timur
Belajar dan Beradaptasi Bersama
Pelatihan yang difasilitasi oleh UPKM/CD Bethesda YAKKUM menjadi titik balik. Para kader dikenalkan pada kartu bantu—sebuah panduan praktis berisi langkah-langkah dari meja 1 hingga meja 5, lengkap untuk semua kelompok usia.
Walau sempat kesulitan, para kader mulai memahami alur pelayanan. Bahkan kini, setiap Posyandu dilanjutkan dengan sesi evaluasi internal, agar setiap kendala dicatat dan dicari solusinya bersama.
“Kami memang belum sempurna. Tapi kami terus belajar, karena sekarang tanggung jawab kami lebih besar: melayani sepanjang usia,” ujar Martina dengan senyum bangga.
Pengalaman Baru, Keterampilan Baru
Dengan penerapan Posyandu siklus hidup, para kader tidak hanya menimbang dan mencatat data. Mereka kini dituntut memiliki hingga 25 keterampilan dasar, termasuk memberikan edukasi, melakukan pemeriksaan sederhana, hingga memberi rujukan ke fasilitas kesehatan.
Martina, misalnya, kini terbiasa memberi penyuluhan soal pola asuh anak—ilmu yang dulunya asing baginya. Dalam layanan untuk lansia, ia bahkan memberi saran tentang pengobatan herbal seperti rebusan daun salam untuk mengurangi gejala asam urat, sembari tetap mendorong warga untuk periksa ke puskesmas.
“Pernah satu kali, seorang ibu pendeta merasa pusing dan minta saya cek tensi. Dulu saya tidak tahu caranya. Tapi setelah ikut pelatihan, saya bisa. Ternyata tensinya rendah” cerita Martina.
Membangun dari Keterbatasan
Martina dan rekan-rekan kader di Laihau menyadari bahwa jalan menuju pelayanan kesehatan yang holistik tidak selalu mulus. Masih ada tantangan: keterbatasan pendidikan, kurangnya kader, dan belum semua paham cara mengisi kartu bantu dengan benar. Namun, semangat belajar dan kebersamaan menjadi kunci. Setiap Posyandu menjadi ruang belajar bersama—bukan hanya untuk masyarakat, tetapi juga bagi para kader.
“Kami bukan tenaga kesehatan profesional. Tapi kami punya niat, dan sekarang juga punya bekal ilmu. Kami akan terus belajar demi masyarakat desa,” pungkas Martina.
Penutup: Menuju Posyandu yang Lebih Inklusif
Apa yang dilakukan Desa Laihau mungkin tampak sederhana. Tapi perubahan yang mereka jalani adalah awal dari revolusi kecil dalam pelayanan kesehatan desa. Dari catatan di selembar kertas hingga pelayanan terintegrasi seluruh siklus hidup—Posyandu kini bukan hanya tentang balita, tapi tentang menjaga kesehatan seluruh warga, dari lahir hingga usia lanjut.
Dengan dukungan berkelanjutan dari lembaga seperti UPKM/CD Bethesda YAKKUM, serta semangat para kader seperti Ibu Martina, Posyandu Desa Laihau perlahan menjadi ruang harapan dan pembelajaran bagi desa- desa lain di sekitar Kecamatan Lewa Tidahu. (Elias M. Eluhana)



