Maret 18, 2025

Tidak Cukup Edukasi Kesehatan Reproduksi, Beri Peran ke Remaja

Masa remaja merupakan salah satu fase kehidupan yang sangat menentukan bagi kehidupan masa depan selanjutnya. Remaja yang gagal berperilaku hidup sehat, kemungkinan akan menghadapi banyak tantangan dalam melanjutkan pendidikan, mencari pekerjaan, memulai kehidupan berkeluarga ataupun dalam bermasyarakat. Perilaku hidup tidak sehat antara lain, berupa seks sebelum menikah, menikah terlalu muda atau di usia anak, tindakan aborsi, menggunakan narkoba dan sebagainya. Salah satu kebutuhan prioritas bagi remaja agar dapat berilaku hidup sehat yaitu informasi mengenai kesehatan reproduksi. Informasi kesehatan reproduksi yang berkualitas, mudah diakses dan bebas stigma menjadi kebutuhan yang tidak boleh ditunda. Remaja butuh informasi dari orang-orang yang dipercaya dan mau menjadi pendamping atau tempat ‘curhat’ bagi remaja yang dalam situasi gamang dan tidak tau harus berbagi cerita ke siapa. Pendekatan kepada remaja inilah yang dilakukan narasumber kita saat ini. Apa saja peran spesifik yang dilakukan dalam memberikan edukasi dan konseling kesehatan reproduksi bagi remaja? Apa tantangan yang dihadapi dalam melakukan edukasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja?
Maret 18, 2025

Terus Kampanyekan Makanan Sesuai Usia Bayi dan Anak untuk Cegah Stunting

Strategi Nasional Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu atau ASI dan Makanan Pendamping ASI atau MP-ASI merekomendasikan pemberian makanan yang baik dan tepat bagi bayi dan anak usia 0 sampai 24 bulan. Didalamnya meliputi: Inisiasi Menyusu Dini segera setelah lahir minimal selama 1 jam; pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan; memberikan Makanan Pendamping ASI mulai usia 6 bulan; dan meneruskan pemberian ASI sampai usia 2 tahun atau lebih. Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2021, angka inisiasi menyusu dini atau IMD di Indonesia sebesar 48,6 persen, artinya lebih dari separuh bayi tidak mendapatkan kolostrum dari ASI pertama yang kaya nutrisi dan antibodi. Sementara itu, berdasarkan data BPS tahun 2023, presentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif di Indonesia mencapai 73, 97%, meningkat dari tahun 2022 sebesar 72,04%. Pemberian Makanan Bayi dan Anak atau PMBA yang tepat dan sesuai usia dapat mencegah anak-anak menderita kurang gizi dan gizi buruk. Bagaimana agar setiap keluarga yang mempunyai bayi dan anak usia 6 sampai 24 bulan mempunyai pengetahuan tentang PMBA sehingga mampu memberikan ASI eksklusif dan menyiapkan Makanan Pendamping-ASI yang sesuai di masing-masing keluarga?
Maret 18, 2025

Pemenuhan Gizi Anak Semestinya Berbasis Pangan Lokal

Syarat ketahanan pangan masyarakat menurut Food and Agriculture Organization (FAO) yaitu bagaimana kapasitas masyarakat dalam menyediakan, baik menghasilkan maupun menyimpan pangan dalam jumlah dan kualitas yang memadai dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Dalam hal ini, perlu keanekaragaman pangan agar masyarakat mampu mencukupi ketersediaan pangan untuk menjaga keberlanjutan pangan sendiri. Keanekaragaman pangan tidak hanya berfungsi dalam mencegah kerawanan pangan, namun juga dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan gizi keluarga dan menjaga kesehatan tubuh. Kandungan zat gizi bisa ditemukan dalam beragam pangan, sehingga dibutuhkan jenis pangan yang beragam pula untuk memenuhi gizi seimbang. Oleh sebab itu, keragaman pangan penting bagi kesehatan. Bagaimana sebenarnya ketersediaan bahan pangan lokal? Bagaimana pula cara pengolahannya agar bahan pangan lokal yang tersedia bisa diolah menjadi makanan yang beragam? Adakah teknologi pengolahan bahan pangan lokal sederhana yang bisa digunakan masyakarat untuk penganekaragaman pangan tersebut?
Maret 18, 2025

Menjadi Peduli, Peran Nyata Atasi HIV dan AIDS di Kabupaten Belu​

Beberapa kajian dokumen menunjukkan bahwa sektor komunitas memiliki peran yang cukup strategis dalam pengendalian HIV dan AIDS. Tidak hanya dalam upaya promosi dan pencegahan, namun saat ini semakin banyak kelompok masyarakat yang berperan dalam pendampingan kepada Orang dengan HIV (ODHIV). Dua kelompok masyarakat yang secara nyata telah berkontribusi dalam isu HIV di kabupaten Belu adalah Warga Peduli AIDS (WPA) dan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Lantas seperti apa gambaran nyata peran penting WPA dan KDS dalam pengendalian HIV dan AIDS di Kabupaten Belu?
Juli 3, 2024

Kisah Dokter di Perbatasan, Menjaga Asa ODHIV Tetap Sehat

RSUD Mgr Gabriel Manek SVD Atambua adalah rumah sakit pertama yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan untuk memberikan layanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV di Kabupaten Belu Provinsi NTT. Peningkatan kualitas layanan HIV di rumah sakit tersebut tentunya tidak lepas dari [...]
Juni 18, 2024

Mengatasi HIV & AIDS, Perempuan Belu Mesti Berdaya

Perempuan menjadi salah satu kelompok yang memiliki kerentanan cukup tinggi terhadap infeksi HIV. Kerentanan tersebut terjadi antara lain karena ketimpangan gender yang berakibat ketidakmampuan mereka dalam mengontrol perilaku seksual pasangan. Selain itu, ada juga faktor minimnya pemahaman terkait HIV dan AIDS. Maka [...]